BAB II
Penduduk
masyarakat dan kebudayaan
A. Studi kasus
Rambu
Solo’ Pemakaman Adat Tana Toraja
Siapa yang tak kenal dengan Tana
Toraja, negeri dengan begitu banyak adat istiadat dan tempat tujuan wisata yang
sangat indah. Tana Toraja, berjarak 300 kilometer dari Makassar, Sulawesi
Selatan, menyimpan berbagai macam adat dan budaya leluhur yang diwariskan oleh
nenek moyang mereka dan tetap lestari hingga kini.
Setiap keturunan suku Toraja, di
manapun berada, wajib menjunjung tinggi akar budaya nenek moyang mereka. Hingga
kini, anak cucu keturunan suku Tana Toraja yang berada di luar negeri dan
berbagai wilayah di Indonesia, akan tetap melakukan tradisi yang sama yang
dilakukan oleh nenek moyang mereka ribuan tahun yang lalu.
Ketaatan mereka dalam menjalankan
adat istiadat dan budaya peninggalan nenek moyang mereka hingga kini, menarik
banyak wisatawan asing dan dalam negeri untuk mengunjungi Tana Toraja setiap
tahunnya. Tana Toraja, kini menjadi salah satu daerah wisata andalan yang
dimiliki oleh Sulawesi Selatan. Berbagai upacara adat yang dimiliki oleh Tana
Toraja dan diselenggarakan setiap tahun, menjadi magnet tersendiri bagi
wisatawan asing.
Ada berbagai upacara adat di Tana
Toraja, salah satunya adalah Rambu Solo, upacara pemakaman leluhur yang telah
meninggal beberapa tahun sebelumnya. Acaranya terdiri dari Sapu Randanan, dan
Tombi Saratu’. Selain itu, dikenal juga upacara Ma’nene’ dan upacara Rambu
Tuka’.
Upacara Rambu Tuka’ dan Rambu
Solo’ diiringi dengan seni tari dan musik khas Toraja selama berhari-hari.
Rambu Tuka’ adalah upacara memasuki rumah adat baru yang disebut Tongkonan atau
rumah yang selesai direnovasi satu kali dalam 50 atau 60 tahun. Upacara ini
dikenal juga dengan nama Ma’Bua’, Meroek, atau Mangrara Banua Sura’.
Sementara itu, Rambu Solo’
sepintas seperti pesta besar. Padahal, merupakan prosesi pemakaman. Dalam adat
Tana Toraja, keluarga yang ditinggal wajib menggelar pesta sebagai tanda
penghormatan terakhir kepada yang telah meninggal. Orang yang meninggal
dianggap sebagai orang sakit sehingga harus dirawat dan diperlakukan layaknya
orang hidup, seperti menemaninya, menyediakan makanan, dan minuman, serta rokok
atau sirih.
Tidak hanya ritual adat yang
dijumpai dalam upacara Rambu Solo’. Berbagai kegiatan budaya menarik pun ikut
dipertontonkan, antara lain Mapasilaga Tedong (adu kerbau) dan Sisemba (adu
kaki).
Rambu Solo’ akan semakin meriah
jika yang meninggal adalah keturunan raja atau orang kaya. Jumlah kerbau dan
babi yang disembelih menjadi ukuran tingkat kekayaan dan derajat mereka saat
masih hidup. Di Rantepao, Anda bisa menyaksikan upacara Rambu Solo yang meriah.
Pembangunan makan bagi keluarga
yang meninggal dan penyelenggaraan Rambu Solo’ biasanya menelan dana ratusa
juta rupiah hingga miliaran. Tak heran, karena banyak sekali ritual adat yang
harus mereka jalankan dalam prosesi pemakaman tersebut.
Salah satu Rambu Solo’ yang
besar, berlangsung hingga tujuh hari lamanya. Yang seperti itu disebut
Dipapitung Bongi. Hewan yang harus dipotong saja tak kurang dari 150 ekor, yang
terdiri dari kerbau dan babi. Dagingnya akan mereka bagikan kepada penduduk
desa sekitar yang membantu proses Rambu Solo’.
Upacara yang menyedot perhatian
turis asing dan wisatawan lokal adalah
adu kerbau atau yang biasa disebut Mapasilaga Tedong. Sebelum diadu,
dilakukan parade kerbau terlebih dahulu. Kerbau adalah hewan yang dianggap suci
bagi suku Toraja. Yang bule atau albino harganya akan sangat mahal, mencapai
ratusan juta rupiah. Ada pula kerbau yang memiliki bercak-bercak hitam di
punggung yang disebut salepo dan hitam di punggung (lontong boke).
Prosesi pemotongan kerbau ala
Toraja, Ma’tinggoro tedong adalah kegiatan selanjutnya, yaitu menebas kerbau
dengan parang dan hanya dengan sekali tebas. Semakin sore, pesta adu kerbau
semakin ramai karena yang diadu adalah kerbau jantan yang sudah memiliki
pengalaman berkelahi puluhan kali.
Rambu Solo’ mencerminkan
kehidupan masyarakat Tana Toraja yang suka gotong-royong, tolong-menolong,
kekeluargaan, memiliki strata sosial, dan menghormati orang tua. Mengenai adu
kerbau, ia mengakui di satu sisi menjadi daya tarik pariwisata, namun di sisi
lain banyaknya kerbau, terutama kerbau bule (Tedong Bonga), yang dipotong akan
mempercepat punahnya kerbau. Apalagi, konon Tedong Bonga termasuk kelompok
kerbau lumpur (Bubalus bubalis) yang merupakan spesies yang hanya terdapat di
Toraja. (Kredit Foto: torajacybernews.com)
Rumusan masalah :
1. Jelaskan keterkaitan antara penduduk masyarakat
dan kebudayaan
2. Jelaskan tentang permasalahan penduduk
3. Tuliskan rumusan angka kelahiran
1.
Keterkaitan penduduk masyarakat dan kebudayaan
Pada hakekatnya, pengertian mengenai penduduk lebih ditekankan
pada komposisi umur, jenis kelamin dan lain-lain, tetapi juga klasifikasi
tenaga kerja dan watak ekonomi, tingkat pendidikan, agama, ciri sosial, dan
angka statistik lainnya yang menyatakan distribusi frekuensi.
Penduduk atau warga
suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua:
·
Orang yang tinggal di
daerah tersebut
·
Orang yang secara hukum
berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat
resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih
tinggal di daerah lain;
·
‘Dalam sosiologi,
penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang
tertentu.
Dalam ilmu sosiologi kita mengenal ada dua macam
masyarakat, yaitu masyarakat paguyuban dan masyarakat petambayan.Masyarakat
paguyuban terdapat hubungan pribadi antara anggota- anggota yang menimbulkan
suatu ikatan batin antara mereka.Kalau pada masyarakat patambayan terdapat
hubungan pamrih antara anggota-angota nya.
Budaya atau Kebudayaan
adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari
banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat,
bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga
budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak
orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang
berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuiakan
perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup
menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya
turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar
dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Penduduk, masyarakat dan
kebudayaan mempunyai hubungan yang erat antara satu sama lainnya.
Dimana penduduk adalah sekumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. Sedangkan masyarakat merupakan sekumpulan penduduk yang saling berinteraksi dalam suatu wilayah tertentu dan terikat oleh peraturan – peraturan yang berlaku di dalam wilayah tersebut. Masyarakat tersebutlah yang menciptakan dan melestarikan kebudayaan; baik yang mereka dapat dari nenek moyang mereka ataupun kebudayaan baru yang tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Oleh karena itu penduduk, masyarakat dan kebudayaan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan sendiri berarti hasil karya manusia untuk melangsungkan ataupun melengkapi kebutuhan hidupnya yang kemudian menjadi sesuatu yang melekat dan menjadi ciri khas dari pada manusia ( masyarakat ) tersebut.
Masyarakat dan kebudayaan terus berkembang dari masa ke masa. Pada zaman dahulu, manusia hidup berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, masyarakat yang hidup dalam keadaan yang seperti ini di sebut dengan masyarakat nomaden. Mereka berpindah ke tempat lain jika bahan makanan yang ada di derah mereka telah habis. Namun, seiring dengan waktu mereka mulai belajar untuk melestarikan daerah di mana mereka tinggal. Mereka mulai bercocok tanam dan berternak untuk melangsungkan kehidupan mereka. Hingga saat ini kegiatan bercocok tanam ( bertani ) menjadi ciri khusus masyarakat Indonesia dan dengan demi kian Indonesia di sebut dengan negara agraris, karena sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani hingga mereka dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
Dimana penduduk adalah sekumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. Sedangkan masyarakat merupakan sekumpulan penduduk yang saling berinteraksi dalam suatu wilayah tertentu dan terikat oleh peraturan – peraturan yang berlaku di dalam wilayah tersebut. Masyarakat tersebutlah yang menciptakan dan melestarikan kebudayaan; baik yang mereka dapat dari nenek moyang mereka ataupun kebudayaan baru yang tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Oleh karena itu penduduk, masyarakat dan kebudayaan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan sendiri berarti hasil karya manusia untuk melangsungkan ataupun melengkapi kebutuhan hidupnya yang kemudian menjadi sesuatu yang melekat dan menjadi ciri khas dari pada manusia ( masyarakat ) tersebut.
Masyarakat dan kebudayaan terus berkembang dari masa ke masa. Pada zaman dahulu, manusia hidup berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, masyarakat yang hidup dalam keadaan yang seperti ini di sebut dengan masyarakat nomaden. Mereka berpindah ke tempat lain jika bahan makanan yang ada di derah mereka telah habis. Namun, seiring dengan waktu mereka mulai belajar untuk melestarikan daerah di mana mereka tinggal. Mereka mulai bercocok tanam dan berternak untuk melangsungkan kehidupan mereka. Hingga saat ini kegiatan bercocok tanam ( bertani ) menjadi ciri khusus masyarakat Indonesia dan dengan demi kian Indonesia di sebut dengan negara agraris, karena sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani hingga mereka dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
sumber:
betesays.blogspot.com
2.
Permasalahan Penduduk
Sebagaimana kita ketahui bersama,
Indonesia merupakan negara dengan nomor urut keempat dalam besarnya jumlah
penduduk setelah China, India, dan Amerika Serikat. Menurut data statistik dari
BPS, jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah 225 juta jiwa, dengan angka
pertumbuhan bayi sebesar 1,39 % per tahun. Angka pertumbuhan ini relatif lebih
kecil dibandingkan dengan angka pertumbuhan bayi pada tahun 1970, yaitu sebesar
2,34%. Dengan jumlah penduduk sebesar 225 juta jiwa, maka pertambahan penduduk
setiap tahunnya adalah 3,5 juta jiwa. Jumlah itu sama dengan jumlah seluruh
penduduk di Singapura
Dengan
jumlah penduduk sebesar 225 juta jiwa, membuat tekanan terhadap lingkungan
hidup menjadi sangat besar. Paling tidak, 40 juta penduduk hidupnya tergantung
pada keanekaragaman hayati di pantai dan perairan. Pada saat yang sama, bahwa
sekitar 20% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Sekitar 43%
pendudu Indonesia masih tergantung pada kayu bakar. Dan pada tahun 2003, hanya
33% penduduk Indonesia mempunyai akses pada air bersih melalui ledeng dan
pompa. Tahun 2000, Jawa dan Bali telah mengalami defisit air mencapai 53.000
meter kubik dan 7.500 meter kubik, sementara di Sulawesi 42.500 meter kubik.
Saat yang sama banjir telah melanda di berbagai tempat di Indonesia. Hal ini
menunjukkan bahwa penduduk Indonesia telah salah mengelola air di Bumi ini.
Menurut
Malthus, pertumbuhan jumlah penduduk, bila tidak dikendalikan, akan naik
menurut deret ukur (1,2,4,8,dst). Produksi pangan meningkat hanya menurut deret
hitung (1,2,3,4,dst). Di Indonesia dengan ledakan penduduk saat ini,
mengakibatkan dampak sosial yaitu mengalami krisis pangan. Bahkan di dunia pun
terjadi krisis pangan global.
Tahun
2008 dicanangkan sebagai tahun sanitasi sedunia. Jumlah penduduk yang melonjak
dipastikan menambah persoalan sanitasi. Sekitar 1 juta jamban di kawasan
Jabotabek dibangun dengan jarak kurang dari 10 meter dari sumur. Jika penduduk kota
terus melonjak, entah karena urbanisasi atau kelahiran alami, sementara jumlah
WC nya tetap bisa dibayangkan sendiri akan menjadi apa jamban tersebut.
Kualitas hidup di kota menjadi merosot. Beragam penyakit seperti diare akan
menyebar.
Ujung
dari semua ledakan penduduk itu adalah kerusakan lingkungan dengan segala
dampka ikutannya seperti menurunnya kualitas pemukiman dan lahan yang
ditelantarkan, serta hilangnya fungsi ruang terbuka. Dampak lonjakan populasi
bagi lingkungan sebenarnya tidak sederhana. Persoalannya rumit mengingat
persoalan terkait dengan manusia dan lingkungan hidup. Butuh kesadaran besar
bagi tiap warga negara, khusunya pasangan yang baru menikah, untuk merencanakan
jumlah anak.
3. RUMUSAN ANGKA KELAHIRAN
Konsep Dasar
Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1000 penduduk. Angka ini disebut kasar sebab belum memperhitungkan umur penduduk. Penduduk tua mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda.
Definisi
Angka Kematian Kasar adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian per 1000 penduduk pada pertengahan tahun tertentu, di suatu wilayah tertentu
Rumus

Dimana
CDR =Crude Death Rate ( Angka Kematian Kasar)
D = Jumlah kematian (death) pada tahun tertentu
P = Jumlah Penduduk pada pertengahan tahun tertentu
K = Bilangan konstan 1000
Catatan1: P idealnya adalah
"jumlah penduduk pertengahan tahun tertentu" tetapi yang umumnya
tersedia adalah "jumlah penduduk pada satu tahun tertentu" maka
jumlah dapat dipakai sebagai pembagi. Kalau ada jumlah penduduk dari 2 data
dengan tahun berurutan, maka rata-rata kedua data tersebut dapat dianggap
sebagai penduduk tengah tahun.
Catatan2: dari Susenas 2003 tercatat
sebanyak 767.740 kematian, sedangkan jumlah penduduk pada tahun tersebut
diperkirakan sebesar 214.37.096 jiwa. Sehingga Angka Kelahiran Kasar yang
terhitung adalah sebesar 3,58. Artinya, pada tahun 2003 terdapat 3 atau 4
kematian untuk tiap 1000 penduduk.
Kegunaan
Kegunaan
Angka Kematian Kasar adalah indikator sederhana yang tidak memperhitungkan pengaruh umur penduduk. Tetapi jika tidak ada indikator kematian yang lain angka ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan. Apabila dikurangkan dari Angka kelahiran Kasar akan menjadi dasar perhitungan pertumbuhan penduduk alamiah.
Kemudian kematian ibu dapat diubah menjadi rasio kematian ibu dan dinyatakan per 100.000 kelahiran hidup, dengan membagi angka kematian dengan angka fertilitas umum. Dengan cara ini diperoleh rasio kematian ibu kematian maternal per 100.000 kelahiran
Rumus
Dimana:
Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari setelah melahirkan, pada tahun tertentu, di daerah tertentu.
jumlah kelahiran Hidup adalah
banyaknya bayi yang lahir hidup pada tahun tertentu, di daerah tertentu.
Konstanta =100.000 bayi lahir hidup
a) Pengertian Kelahiran dan Angka Kelahiran
Kelahiran
Kelahiran adalah
ekspulsi atau ekstraksi lengkap seorang janin dari ibu tanpa memperhatikan
apakah tali pusatnya telah terpotong atau plasentanya masih berhubungan. Berat
badan lahir adalah sama atau lebih 500 gram, panjang badan lahir adalah sama
atau lebih 25 cm, dan usia kehamilan sama atau lebih 20 minggu.
Angka Kelahiran
Angka kelahiran adalah jumlah kelahiran per 1000 penduduk.
Angka Kelahiran
Angka kelahiran adalah jumlah kelahiran per 1000 penduduk.
Sumber :
Cunningham, Mac Donald, Gant. Obstetri Williams, ed. ke-18. dr. Joko Suyono & dr. Andry Hartono (penerj.). Jakarta : EGC.
Cunningham, Mac Donald, Gant. Obstetri Williams, ed. ke-18. dr. Joko Suyono & dr. Andry Hartono (penerj.). Jakarta : EGC.
b) Dinamika Penduduk
Dinamika kependudukan
adalah perubahan kependudukan untuk suatu daerah tertentu dari waktu ke waktu.
pertumbuhan penduduk akan selalu dikaitkan dengan tingkat kelahiran, kematian
dan perpindahan penduduk atau migrasi baik perpindahan ke luar maupun ke luar.
Pertumbuhan penduduk adalah peningkatan atau penurunan jumlah penduduk suatu
daerah dari waktu ke waktu.
Pertumbuhan penduduk yang minus berarti jumlah penduduk yang ada pada suatu daerah mengalami penurunan yang bisa disebabkan oleh banyak hal. Pertumbuhan penduduk meningkat jika jumlah kelahiran dan perpindahan penduduk dari luar ke dalam lebih besar dari jumlah kematian dan perpindahan penduduk dari dalam ke luar.
Pertumbuhan penduduk yang minus berarti jumlah penduduk yang ada pada suatu daerah mengalami penurunan yang bisa disebabkan oleh banyak hal. Pertumbuhan penduduk meningkat jika jumlah kelahiran dan perpindahan penduduk dari luar ke dalam lebih besar dari jumlah kematian dan perpindahan penduduk dari dalam ke luar.
sumber:
boykb.blogspot.com
OPINI
1)
Nama : Muhammad Januarizman
Akbar
NPM : 14111890
Kelas : 1KA32
Opini : “ Saat ini banyak
masyarakat Indonesia yang tidak sadar bahwa salah satu kekayaan bangsa kita ini adalah kebudayaan yang sangat
beragam sekali yang kita miliki. Maka dari itu kita harus melestarikannya dan
perkenalkan budaya kita pada pameran kebudayaan internasional. Dengan cara itu, kebudayaan Indonesia akan
dikenal oleh seluruh masyarakat di dunia. Apalagi saat ini masyarakat dunia
hanya mengenal Indonesia pada beberapa titik tertentu, seperti Bali, Jakarta,
Lombok, dan lain lain. Mari kita perkenalkan seluruh Kebudayaan yang ada di
Indonesia kepada masyarakat di seluruh dunia, dan menjaganya agar tidak di curi
oleh Negara lain. Dan tunjukan bahwa Indonesia merupakan Negara yang harus di
pandang olelh masyarakat dunia juga. “
2)
Nama : Yulita Dwi Irawan
NPM : 18111280
Kelas : 1KA32
Opini : “ Kita sebagai
warga Negara Indonesia yang mempunyai pikiran jernih seharusnya mencontoh
kebudayaan seperti di Tana Toraja. Banyak aspek yang harus kita pelajari dari
kebudayaan tersebut, contohnya dengan membudidayakan peninggalan nenek moyang
kita sehingga banyak wisatawan asing yang tertarik dengan kebudayaan di Tana
Toraja. Oleh karena itu, kita patut mencontoh kebudayaan tersebut agar tidak di
curi oleh Negara lain. “
3)
Nama : Mujahid Ramadhan
NPM : 15111026
Kelas : 1KA32
Opini : “ Kita sebagai
makhluk social seharusnya mengikuti kebudayaan seperti di daerah Tana Toraja,
banyak yang harus kita contoh dari kebudayaan tersebut, seperti dengan
membudidayakan peninggalan yang terdahulu yang masih ada. Jadi kita dapat menarik
wisata untuk melirik kebudayaan yang kita punya, oleh karena itu kita harus
membudidayakan kebudayaan yang sudah ada, agar bisa terkenal di seluruh dunia,
atau mancanegara. “
4)
Nama : Kiki Asviyani
NPM : 13111988
Kelas : 1KA32
Opini : “ Kebudayaan masyarakat Tana Toraja ini
sangat baik dan dapat kita contoh. Membudidayakan segala peninggalan dari nenek
moyang kita merupakan salah satu cara untuk melestarikan kebudayaan dan
peninggalan yang ada. Maka dari itu kita sebagai bangsa penerus wajib untuk menjaga
dan melestarikannya. Agar tidak di anggap milik Negara lain dengan semena-mena.
“
5)
Nama : Andrew Oliver
NPM : 10111798
Kelas : 1KA32
Opini : “ Dengan melestarikan peninggalan nenek
moyang seperti yang ada di Tana Toraja merupakan contoh yang harus kita
tancapkan di pikiran kita. Bagaimana tidak, di Negara kita banyak sekali
kebudayaan, tetapi dari diri kita sendiri belum mengenalnya secara keseluruhan.
Maka dari itu kita harus mengenal semua kebudayaan yang kita miliki dan
melestarikannya dengan cara atau adat pada masing-masing kebudayaanya. Dengan
begitu kita dapat selalu menikmatinya dan terjaga utuh. “
6)
Nama : Ega Septian
NPM : 12111332
Kelas : 1KA32
Opini : “ Pada masyarakat Tana Toraja wajib bagi
mereka untuk melestarikan peninggalan dari nenek moyang mereka. Kita juga harus
mengikuti adat mereka, segala yang kita punya harus kita jaga dan lestarikan,
agar nantinya kebudayaan kita dapat terjaga dengan baik. Apalagi sebelumnya ada
kebudayaan yang telah dicuri hak patennya oleh Negara lain, jangan sampai hal
tersebut terulang terhadap kebudayaan lain yang kita miliki. “
7)
Nama : Ferdy Herlambang
NPM : 12111823
Kelas : 1KA32
Opini : “ Berbagai kebudayaan yang kita miliki saat
ini hendaknya di lestarikan dan di jaga oleh masyarakat Indonesia. Jangan lah
kita rusak dengan pengaruh dari kebudayaan luar. Contohnya pada masyarakat Tana
Toraja tersebut, mereka bisa melakukannya dimulai dari nenek moyang mereka,
bahkan sampai saat ini adat Tana Toraja masih dapat kita nikmati sampai saat
ini. “
8)
Nama : Raden Bagus Teguh Sulisstiadi
NPM : 15111720
Kelas : 1KA32
Opini : “ Adat yang sangat baik untuk kita ikuti,
melestarikan peninggalan yang dilakukan oleh masyarakat Tana Toraja sudah
mereka lakukan sejak nenek moyang mereka sampai ke cucu-cucu mereka. Menurut saya
apabila semua masyarakat Indonesia seperti masyarakat Tana Toraja, tidak
mungkin ada kebudayaan kita yang di curi oleh Negara lain. Maka dari itu,
jagalah kebudayaan kita serta lestarikanlah lalu perkenalkan budaya Indonesia
kepada masyarakat dunia. “


Tidak ada komentar:
Posting Komentar